BansosWarung Kopi Ceu Denok

Hilal Terpantau di Warung, Ego Mengambang di Langit, Bulan Menjadi Saksi Bisu

Terdapat sesuatu yang tidak biasa di Warung Kopi Ceu Denok pada suatu malam, sebuah perbincangan tentang bulan yang tercipta dari suhu udara yang dingin, secangkir kopi hangat, dan sepiring pisang goreng yang baru saja digoreng.

Hilal Terpantau di Warung

Mang Ucup, seorang pria berjenggot tipis, terlihat serius sambil menikmati kopi panasnya. Wajahnya tampak berat seakan baru saja keluar dari sidang isbat personalnya. “Bulan malam ini tidak salah,” ucapnya sambil meraba jenggotnya.

Jajang Bolang, yang baru saja tiba di warung tersebut, segera duduk dan bergabung dalam percakapan. “Mang, bulan tidak pernah salah. Yang sering salah adalah orang yang menentukan bulannya,” sahutnya.

Ceu Denok, pemilik warung, ikut berbicara dari balik etalase. “Pertengkaran bisa terjadi hanya karena salah pilih kopi, apalagi jika salah menentukan lebaran,” ujarnya.

Mang Ucup hanya tertawa kecil sebelum mulai berbicara dengan nada yang menyerupai ceramah santri.

Antara Mata, Akal, dan Ego

“Jajang, masalah hilal ini bukan hanya tentang melihat atau menghitung. Tapi tentang siapa yang paling yakin bahwa mereka benar,” jelas Mang Ucup.

Jajang mengangguk-angguk. “Jadi, hilal itu tidak hanya di langit, tapi juga di pikiran orang ya, mang?” tanyanya.

“Benar sekali! Itu sudah jelas di dalam kitab-kitab falak,” lanjut Mang Ucup. “Sejak dulu telah ada hisab dan rukyat. Bahkan empat madzhab memiliki cara yang berbeda-beda. Ada yang berdasarkan global, ada yang berdasarkan lokal. Tapi tujuannya sama: Untuk memastikan ibadah.”

Jajang tersenyum, “Jadi yang berbeda adalah metodenya, bukan tujuannya?”

“Sekarang, kadang perbedaan itu menjadi status,” jawab Mang Ucup pelan.

Ceu Denok ikut berbicara lagi. “Status hanyalah orang yang datang ke warung tetapi berutang, Cup.”

Warung vs Sidang Isbat

Jajang kemudian bertanya sambil menyeruput kopinya, “Mang, dalam ilmu modern sekarang, hilal bisa dihitung dengan astronomi, bahkan hingga ratusan tahun ke depan, bukan?”

Back to top button